“Difteri” Penyakit klasik yang muncul kembali

Halo Sobat Safety!
Akhir-akhir ini Indonesia dikabarkan dengan isu wabah difteri yang menyerang beberapa provinsi. Kementerian Kesehatan telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada penyakit difteri karena sifat penyakit ini yang mematikan dan telah memakan korban setidaknya di 20 provinsi di Indonesia.

Difteri pada dasarnya diakibatkan bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphteriae yang menyebar melalui udara dan umumnya lebih banyak menyerang pada anak berusia 5-7 tahun. Kasus difteri pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko seperti status gizi anak, status imunisasi yang tidak lengkap, serta adanya riwayat kontak dengan si penderita. Di sisi lain, penyakit difteri tidak hanya terjadi pada anak-anak, namun orang dewasa pun juga dapat terjangkit penyakit mematikan ini.

Pada kenyataannya, Difteri merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksin penangkalnya. Vaksin ini disebut vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) yang idealnya diberikan minimal tiga kali seumur hidup sejak berusia dua tahun.

Lantas, mengapa penyakit Difteri ini kembali muncul di Indonesia?

Juru bicara Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi menyebutkan bahwa munculnya KLB Difteri dapat dikaitkan dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan / kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah. Akibatnya, terdapat akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri dikarenakan tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya.
Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan jumlah kasus difteri di Indonesia naik turun sejak 1980-an. Jumlah kasus pada 2007 sebanyak 187 kasus meningkat tajam pada 2012 sebanyak 1192 kasus. Meski setelahnya mengalami penurunan, namun angka kasus yang terjadi masih berada ada ratusan kasus.
Penyakit Difteri dapat mengakibatkan kematian dikarenakan sumbatan saluran nafas atas akibat toksinnya yang bersifat pathogen dan menimbulkan komplikasi miokarditis (peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah), gagal ginjal, gagal napas dan gagal sirkulasi. Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam sekitar 380C, munculnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, dan terkadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengkakan jaringan lunak leher (bullneck).
Untuk menangani penyakit difteri pada pasien, serum anti-difteri dan antibiotik harus diberian secara bersamaan. Keduanya harus diberikan karena serum anti-difteri tidak dapat bekerja sendiri untuk mengeliminasi bakteri penyebab difteri. Begitu pula antibiotic yang tidak bisa menggantikan peran serum yang memiliki fungsi untuk menetralisir racun difteri.
Sampai saat ini penyakit difteri merupakan penyakit yang tidak bisa sepenuhnya dihapuskan. Pemberian imunisasi DPT merupakan salah satu cara pencegahan penyakit difteri dan tidak menghilangkan keberadaan bakteri jika seseorang terinfeksi.
Oleh karena itu, yuk Sobat kita saling menjaga anggota tubuh kita dengan baik agar dapat terhindar dari berbagai macam penyakit, khususnya penyakit Difteri yang sedang mewabah di Indonesia.

Special question:
Organ tubuh manakah yang pertama kali diserang oleh bakteri penyebab Difteri?
Yuk, kirim komentar sobat disini 

Sumber:
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42215042 diakses 9 Februrari 2018
https://jurnalpediatri.com/2017/12/09/gejala-dan-penanganan-difteri/ diakses 9 Februrari 2018
http://sains.kompas.com/read/2017/12/13/124001723/wabah-difteri-di-indonesia-antara-vaksinasi-dan-antibiotik diakses 9 Februari 2018
Arifin IF, Prasasti CI. 2017. Faktor yang Berhubungan dengan Kasus Difteri Anak di Puskesmas Bangkalan Tahun 2016. Jurnal Berkala Epidemiologi, Volume 5 Nomor 1, Januari 2017, hlm. 26-36
SAFETY IS MY LIFE. (mrd)

Ingin berbagi semua tentang keselamatan sobat? Yuk kirim ke allaboutsafetyid@gmail.com, kami tunggu ya 🙂

Line: @allaboutsafety<img src="http://allaboutsafety.id/wp-content/uploads/2018/02/1518257041877-300×300.jpg" alt="" width="300" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-567"
Instagram: @allabout_safety
Twitter: @allabout_safety
Facebook Page: All About Safety Indonesia
Web: https://allaboutsafety.id
Email: allaboutsafetyid@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *