‘Beton Hidup’ inovasi beton dalam merangkai kerekatan

Halo Sobat Safety!

Struktur bangunan pada saat ini tidak terlepas dari peran beton. Beton saat ini banyak digunakan dalam suatu kegiatan proyek konstruksi yang mana beton lebih mudah dibentuk dalam pengerjaannya, bahan-bahan mudah didapat, mudah perawatannya dan tentunya harga lebih murah dari pada konstruksi baja.
Beton merupakan suatu bahan komposit (campuran) dari beberapa material, yang bahan utamanya terdiri dari campuran antara semen, agregat halus, agregat kasar, air dan atau tanpa bahan tambah lain dengan perbandingan tertentu. Karena beton merupakan komposit, maka kualitas beton sangat tergantung dari kualitas masing-masing material pembentuk.

Beton pada dasarnya terdiri dari material yang tak hidup. Namun, tahukah sobat bahwasannya beton dapat meregenerasi dirinya sendiri sehingga ada yang dinamakan ‘beton hidup’?

Professor Henk Jonkers, Universitas Teknologi Delft, Belanda mendesain beton tipe baru yang dapat memperbaiki keretakannya sendiri. Seperti dilansir oleh CNN, Henk Jonkers menuturkan bahwa telah tercipta suatu inovasi bioconcrete yaitu beton yang dapat menyembuhkan dirinya sendiri dengan menggunakan bakteri.
Campuran bioconcrete sama seperti beton pada umumnya namun ditambahkan “agen penyembuh” yaitu bakteri. Bakteri ini bersifat larut selama pencampuran (mixing) dan akan aktif ketika beton retak dan air masuk ke dalamnya.
Beton memiliki sifat alkalin yang sangat ekstrim. Bakteri ini harus memasuki tahap dorman selama bertahun-tahun sebelum diaktifkan oleh air. Jonkers memilih bakteri bacillus karena sifat bakteri tersebut yang dapat berkembang dalam kondisi basa dan menghasilkan spora yang dapat bertahan selama beberapa dekade tanpa makanan ataupun oksigen.
Pada akhirnya, Jonkers memilih kalsium laktat, mengatur bakteri dan kalsium laktat menjadi kapsul yang terbuat dari plastik biodegradable dan menambahkan kapsul tersebut ke dalam campuran beton basah. Saat terjadi keretakan di dalam beton, air dari luar akan masuk dan membuka kapsul tersebut. Bakteri kemudian akan berkembang biak dan memakan laktat. Dengan cara seperti itu, bakteri menggabungkan kalsium dengan ion karbonat untuk membentuk kalsit atau batu gamping yang dapat menutup celah-celah tersebut.
Kerusakan beton pada struktur bangunan merupakan hal yang berbahaya jika tidak cepat ditemukan dan diantisipasi. Oleh karena itu, apabila penemuan Jonkers ini sudah tersebar luas, akan sangat banyak masyarakat yang dapat memanfaatkan teknologi ini.
Di sisi lain, Indonesia juga sudah pernah melakukan penelitian mengenai ‘beton hidup’. Kelompok Penelitian Rekayasa Biokomposit dan Ekosruktur – Pusat Penelitian Biomaterial LIPI sejak tahun 2015 sudah meneliti bakteri yang cocok di Indonesia untuk menambal dan merekatkan keretakan beton.
Semoga hal ini bisa segera direalisasikan dan diterapkan di Indonesia ya, sobat!

Special question:
Apakah beton hidup memerlukan oksigen dalam perekatan partikel beton yang telah hancur/retak?
Yuk, kirim komentar sobat disini 

Sumber:
http://edition.cnn.com/2015/05/14/tech/bioconcrete-delft-jonkers/ diakses 8 Februari 2018
Fahmi R, Abing DS, Gunawan Y. (2012). Perancangan beton kekuatan K-250 dengan Bahan Pasir Cidadap Karangpawitan Kabupataen Garut. Jurnal Konstruksi Sekolah Tinggi Teknologi Garut. ISSN: 2302-7312 Vol. 10 No. 01 2012
Tjokrodimuljo, Kardiyono. 2007. Teknologi Beton. Biro Penerbit Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

SAFETY IS MY LIFE. (mrd)

Ingin berbagi semua tentang keselamatan sobat? Yuk kirim ke allaboutsafetyid@gmail.com, kami tunggu ya 🙂

Line: @allaboutsafety
Instagram: @allabout_safety
Twitter: @allabout_safety
Facebook Page: All About Safety Indonesia
Web: https://allaboutsafety.id
Email: allaboutsafetyid@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *