Komitmen Manajemen K3 di Indonesia

Komitmen Manajemen K3 di Indonesia

Halo sobat safety!
Hari ini kami akan membahas komitmen manajemen K3 secara keseluruhan di Indonesia. Sebelumnya ada fakta menarik yang akan kami sampaikan. Menurut data dari PT Jamsostek dan BPJS Ketenagakerjaan pada tahun 2010 jumlah kasus kecelakaan kerja mencapai 98.711 kasus, jumlah tersebut mengalami kenaikan di tahun 2011 menjadi 99.491 kasus, 103.074 kasus di tahun 2012 dan menjadi 103.285 kasus di tahun 2013. Pada tahun 2014 terjadi penururan dengan 88.207 kasus, tercatat cacat tetap 37 orang, 1978 orang meninggal dan nilai kompensasi yang dibayarkan mencapai 565 milyar rupiah. Tingginya angka kecelakaan kerja tersebut disebabkan oleh perusahaan belum sepenuhnya menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) (Zulmiyar, 2016).
Sementara secara badan hukum tenaga kerja telah dilindungi oleh Undang-Undang agar terhindar dari kecelakaan kerja. Pada Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dinyatakan bahwa “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, peledakan, kebakaran, dan pencemaran wajib menerapkan SMK3”. Kebijakan ini dipertegas kembali pada Pasal 87 Ayat 1 Undang-Undang (UU) No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa “Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”.
Peraturan dan Kebijakan telah dibuat, tetapi kenyataannya masih terdapat kecelakaan kerja. Maka diperlukan sebuah komitmen untuk melaksanakan budaya yang sehat dan selamat dalam bekerja. Apa itu komitmen? Komitmen adalah tekad yang kuat, yang mendorong seseorang untuk mewujudkannya. Agar komitmen dalam Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) lebih optimal maka tidak hanya pembuat peraturan dan manajemen perusahaan yang terlibat, tetapi juga diperlukan kerjasama dari individu atau masing-masing pekerja di dalam perusahaan.
Sobat safety, kita pun dapat berpartisipasi dalam komitmen K3 ini dengan melakukan analisa pada perusahaan melalui:
Setiap peraturan dan kebijakan K3 di perusahaan hendaknya dikomunikasikan kepada karyawan atau pengunjung baru melalui safety induction.
Setiap perusahaan harus memiliki Ahli K3 umum dan ahli K3 khusus. Karyawan setingkat manajer diharapkan sudah memiliki sertifikasi Ahli K3.
Setiap perusahaan bekerjasama dengan karyawan membentuk organisasi P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) untuk memberikan advice dalam hal K3 dan membentuk tim evakuasi dengan Tim Tanggap Darurat (TTD)
Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai seperti terdapat Alat Pelindung Diri (APD), simbol keselamatan berupa safety sign dan poster yang ditempel pada unit produksi.
Perusahaan menyediakan pelatihan K3 secara rutin yang dapat bekerjasama dengan lembaga yang kompeten.
Akhirnya setiap langkah yang diambil harus didasarkan pada komitmen untuk selalu menerapkan budaya K3 dan mengindari kecelakaan kerja.

(sar)

SAFETY IS MY LIFE.

Daftar Pustaka:
Kesehatan dan Keselamatan Kerja http://scholar.unand.ac.id/18142/2/BAB%20I.pdf (diakses 8 Januari 2018)
Noviandini, Shabira, Ekawati, Bina Kurnawan. 2015. “Analisis Komitmen Pimpinan Terhadap Penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) di PT Krakatau Steel (Persero) Tbk”. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-journal). Vol 3. No 3. Hal 639-650.


Ingin berbagi semua tentang keselamatan sobat? Yuk kirim ke allaboutsafetyid@gmail.com, kami tunggu ya

Line: @allaboutsafety
Instagram: @allabout_safety
Twitter: @allabout_safety
Facebook Page: All About Safety Indonesia
Web: https://allaboutsafety.id
Email: allaboutsafetyid@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *