[Peningkatan Budaya K3]

Hallo Sobat Safety!! Taukah Sobat???
Di dalam sebuah budaya k3 positif yang kuat, setiap orang bertanggung jawab terhadap keselamatan kerja dan menerapkan k3 dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang akan melakukan yang terbaik untuk identifikasi kondisi dan perilaku yang tidak aman serta merasa nyaman untuk melakukan intervensi terhadap hal yang tidak aman itu.

Berikut adalah 5 elemen untuk membentuk Budaya K3 yang kuat versi International Association of Oil & Gas Producers (IOGP):
1. Budaya untuk Mencari Informasi (Informed Culture)
Tetap mendapatkan informasi dapat membantu organisasi untuk mencegah ketidakwaspadaan dalam ketiadaan kecelakaan kerja. Organisasi dengan budaya K3 yang kuat selalu waspada dan percaya bahwa kondisi yang aman dapat bermasalah.
Oleh karena itu, dalam ketiadaan kejadian kecelakaan kerja dan dalam usaha untuk mempromosikan perhatian keselamatan kerja yang terjadi, sebuah organisasi harus membuat sebuah sistem informasi yang mengumpulkan, menganalisa dan membagikan informasi tentang manusia, technical, organisasi dan faktor lingkungan yang menunjukkan keseluruhan sistem keselamatan kerja.

2. Budaya Melaporkan (Reporting Culture)
Organisasi dalam industri yang beresiko tinggi sedang meningkatkan kepemahaman mereka tentang keselamatan kerja melalui laporan dan investigasi kecelakaan. Keengganan untuk menyelidiki dan berdiskusi tentang kecelakaan dapat mengakibatkan kehilangan peluang untuk mencegah bencana di masa depan dan dapat diterjemahkan sebagai tanda bahwa produksi dihargai lebih daripada keselamatan kerja.
Nilai dari pelaporan haruslah terlihat dari aksi perbaikan, penyebaran pelajaran yang dapat diambil dari pelaporan serta umpan balik ke pelapor. Ini membutuhkan sumber daya yang cukup dan kompeten yang siap sedia untuk investigasi kecelakaan secara efektif.

3. Budaya Belajar (Learning Culture)
Sebuah organisasi dengan budaya belajar yang kuat akan mengumpulkan informasi dari berbagai macam sumber, mengambil pelajaran yang berguna, membagi pelajaran yang di dapat dan menindaklanjuti proses pengembangan keselamatan kerja. Organisasi pembelajar akan mencari pandangan yang berlawanan untuk mencari kesempatan belajar dengan lebih efektif. Mereka terbuka akan berita yang buruk sehingga informasi tidak “dikecilkan” begitu sampai ke manager. Laporan yang ada merupakan laporan yang valid karena sistem pelaporan berdasarkan kejujuran dan kepercayaan. Karena organisasi secara jelas merespon laporan, karyawan merasa terdorong untuk terus melapor sehingga menghasilkan budaya pelaporan yang efektif.

4. Budaya Fleksibel (Flexibility Culture)
Budaya fleksibel dalam sebuah organisasi akan memungkinkan organisasi untuk mempertahankan koordinasi dalam level yang efektif dan perhatian yang tepat mengingat terdapat perbedaan dalam proses pengambilan keputusan karena perbedaan tingkat urgensi dan kehandalan dalam orang-orang yang terlibat.
Sangatlah penting bagi sebuah perusahaan untuk menyadari jangkauan kemampuan dari karyawannya dan bagaimana menggunakan skil tersebut ketika diperlukan. Organisasi yang ingin mendapat budaya fleksibel harus melatih kemampuan mereka dan mengkaji aksi yang diberikan untuk merespons ancaman dari kejadian, memastikan fleksibilitas structural yang cocok dan efektif.

5. Budaya Adil (Just Culture)
Budaya Adil merupakan sarana yang kuat untuk elemen-elemen lain dalam budaya k3. Harapan yang jelas, implementasi yang konsisten terhadap semua peraturan, proses investigasi yang adil serta respons yang adil terhadap mereka yang melanggar peraturan akan menjadi pesan yang kuat bagi seluruh karyawan tentang hak dan kewajiban mereka yang benar.

SAFETY IS MY LIFE.
(YMS)

Ingin berbagi semua tentang keselamatan sobat? Yuk kirim ke allaboutsafetyid@gmail.com, kami tunggu ya 😊
Line: @allaboutsafety
Instagram: @allabout_safety
Twitter: @allabout_safety
Facebook Page: All About Safety Indonesia
Web: https://allaboutsafety.id
Email: allaboutsafetyid@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *