[Petunjuk ‘Exit Route’]

Sebuah Cerita Fiksi.

Oleh: Ahmad Afif Mauludi

Minggu lalu saya pergi ke bandara untuk mengantar ibu saya yang memiliki keperluan ke luar kota. Saat itu, jadwal keberangkatan yang seharusnya jam lima sore mengalami penundaan keberangkatan, sehingga ibu saya harus menunggu selama satu jam di ruang tunggu bandara. Karena tidak ada pekerjaan lain dan tidak dalam kondisi terburu-buru, maka saya menemani ibu saya menunggu jam keberangkatan di ruang tunggu bandara.

Menunggu adalah salah satu kegiatan yang paling membosankan bagi saya, mungkin juga untuk Anda dan sebagian orang lain, sehingga sambil menunggu saya pun memutuskan berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu bandara. Sebagai seorang mahasiswa K3 saya pun berkeliling dengan memperhatikan penerapan K3 yang ada di bandara, walaupun saya sendiri belum terlalu paham mengenai urusan-urusan K3, apalagi penerapannya di bandara – ya biar terlihat saja kalau saya memiliki jiwa K3 haha.

Paling menarik bagi saya adalah untuk melihat sistem proteksi api dan sarana evakuasi, sehingga saya selalu memperhatikan hal tersebut di setiap tempat yang saya kunjungi. Saya perhatikan sprinkler dan alarm, saya perhatikan jumlah dan jaraknya. Lalu ke kotak hydrant, saya buka dan saya perhatikan selang dan nozzle-nya, apakah ada kerusakan. Saya periksa penempatannya, rambu & petunjuk penggunaan APAR, saya periksa tekanan, tanggal kadaluwarsa dan kondisi fisiknya. Saya perhatikan alarm kebakaran dan pipa-pipanya. Lalu saya pergi ke pintu darurat, melihat tanda ‘EXIT’, mencoba membukanya (walaupun tidak bisa), dan melihat-lihat tangga melalui kaca yang ada di pintu. “Hmm.. semua baik saja, sesuai dengan yang diajarkan oleh dosen dan buku-buku yang pernah dibaca”, gumam saya.

Tak terasa waktu hampir satu jam, waktunya saya berpamitan kepada Ibu saya. Ketika berpamitan, secara  tidak sengaja saya melihat petunjuk ‘exit route’ berwarna hijau – dengan tulisan berwarna putih yang terbuat dari bahan bersinar dalam gelap – yang terletak di dinding bandara, tidak jauh dari dasar lantai. “Mengapa di bawah?” Pertanyaan tersebut terlintas di pikiran saya mengenai penempatan petunjuk ‘exit route’ itu. Fokus saya lalu kembali dan menyelesaikan momen berpamitan dengan Ibu saya. Setelah berpamitan dan ibu saya pergi dan waktunya saya untuk pulang.

Sepanjang perjalanan pulang saya kembali memikirkan mengenai letak petunjuk ‘exit route’ tersebut. Lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul bersama dengan pertanyaan lainnya, “Mengapa terletak di bawah? Bukankah jadi tidak terlihat? Lalu apa gunanya?” Karena penasaran, sampai di rumah saya langsung memarkir mobil di garasi, mengambil kunci rumah, membuka pintu, mengunci kembali dan langsung naik ke kamar saya di lantai dua. Sampai di kamar, saya langsung membuka buku catatan kuliah dan buku diktat mengenai jalur evakuasi. Namun saya tidak menemukan jawaban yang saya cari, yaitu tentang penempatan petunjuk ‘exit route’, mungkin referensi saya kurang. Karena lelah lalu saya tidur, tanpa menemukan jawaban yang memuaskan. Esok harinya saya sudah melupakan mengenai petunjuk ‘exit route’ tersebut.

Hari ini adalah hari Senin, saat paling padat dan berat dari jadwal kuliah saya. Kalian bayangkan saja, pagi sampai siang penuh dengan materi perundangan K3 yang sangat banyak. Lalu siang hingga sore kami belajar mengenai Manajemen Risiko dan di sore Hari hingga menjelang petang kami harus ke lab untuk praktikum mata kuliah lab K3. Namun, di tengah jadwal yang super padat tersebut kami masih bisa bertahan karena lingkungan kampus yang menyenangkan dengan fasilitas lengkap (terutama wifi internet yang cepat) dan teman-teman yang saling mendukung untuk belajar.

Istirahat siang, seperti biasa saya dan sekelompok teman makan siang bersama di kantin tidak jauh kelas kami. Setelah makan, salah satu teman saya menunjukkan sebuah video mengenai manajemen kebakaran dan menyarankan kepada saya untuk menonton video tersebut karena sangat detail dan baik untuk belajar proses evakuasi kebakaran. Ketika di tengah menonton video, tiba-tiba saya berteriak bak Archimedes dengan ‘Eureka!’. Teman-teman saya kaget dan bertanya apa yang terjadi. Seperti Newton yang baru menemukan gravitasi karena jatuhnya apel dari pohon, saya menceritakan pengalaman saya di bandara pekan lalu, ya mengenai petunjuk ‘exit route’ yang saya temukan memiliki posisi di bawah dekat dengan dasar lantai.

Mau tahu apa yang saya temukan di dalam video tersebut? Di dalam video tersebut terdapat simulasi evakuasi kebakaran di sebuah pabrik dengan format animasi, salah satu adegannya adalah seorang pekerja wanita sedang berusaha keluar dari gedung dengan cara merangkak! Ya merangkak! Mengapa merangkak? Karena ketika kebakaran akan timbul asap dan asap memiliki massa jenis yang lebih rendah dari udara bersih sehingga akan memenuhi bagian atas ruangan terlebih dahulu. Asap kebakaran memiliki sifat ‘toxic’ atau beracun, oleh karena itu dalam proses evakuasi kebakaran, untuk menghindari keracunan karbon (asap), kita diharuskan bergerak dalam posisi merangkak untuk mencapai ke tangga darurat. Itulah alasan mengapa petunjuk ‘exit route’ terletak di bawah, sehingga orang yang merangkak ketika evakuasi, terutama kebakaran, dapat membaca dan mengikuti arah petunjuk tersebut.

“Case closed” pikir saya.

Bagaimana? Pernah menemukan hal yang sama sobat? Yuk berbagi.

SAFETY IS MY LIFE. (AAM/HMD)

Ingin berbagi semua tentang keselamatan sobat? Yuk kirim ke allaboutsafetyid@gmail.com, kami tunggu ya 😊

Line: @allaboutsafety
Instagram: @allabout_safety
Twitter: @allabout_safety
Facebook Page: All About Safety Indonesia
Web: https://allaboutsafety.id
Email: allaboutsafetyid@gmail.com

#safetyismylife
#allaboutsafety
#AASID
#EvacuationRoute
#FireEscape
#FireSafety
#Emergency
#DisasterManagement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *