[CARPAL TUNNEL SYNDROME]

Ditulis oleh: Muhamad Ridwan

Halo Sobat Safety!

Pernahkah sobat melakukan aktivitas berat dan dilakukan secara berulang? Apakah setelah melakukan aktivitas tersebut sobat merasakan sakit di sekitar pergelangan tangan? Jika iya, maka waspadalah bisa jadi apa yang sobat rasakan adalah tanda-tanda Carpal Tunnel Syndrome. Apa itu Carpal Tunnel Syndrome? Apakah berbahaya? Simak penjelasan berikut yuk, Sobat.
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah sindrom yang muncul ketika nervus medianus tertekan di dalam Carpal Tunnel (terowongan karpal) di pergelangan tangan saat nervus melewati terowongan tersebut dari lengan bawah ke tangan. Nervus medianus rentan terhadap kompresi dan cedera di telapak tangan dan pergelangan tangan yang dibatasi oleh tulang pergelangan tangan (karpal) dan ligamentum karpal transversal. CTS merupakan kombinasi kelainan jari, tangan dan lengan dengan gejala yang mencerminkan kompresi sensoris atau motoris. Akibatnya, tangan merasa kesemutan, mati rasa atau kebas dan rasa sakit pada tiga jari tangan (ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah).

Penyebab CTS sampai sekarang masih dalam tahap penelitian karena kebanyakan kasus CTS, penyebab saraf median tertekan masih belum dapat diketahui. Namun ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko terkena Carpal Tunnel Syndrome seperti faktor keturunan keluarga, cedera pada pergelangan tangan, wanita hamil, pekerjaan berat dan berulang serta kondisi medis lain seperti rheumatoid arthritis dan diabetes.

Penyakit ini lebih sering terjadi pada orang dewasa di atas 30 tahun khususnya perempuan dan banyak dijumpai di kalangan pekerja industri dengan perkiraan prevalensi CTS sebesar 1.55% menurut National Health Interview Study (NHIS). Selain itu, pekerja dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) ≥25 lebih mungkin terkena CTS dibandingkan dengan pekerja yang memiliki IMT di bawah 25. Hal ini sesuai dengan temuan American Obesity Association bahwa 70% penderita CTS memiliki kelebihan berat badan dengan setiap peningkatan 8% IMT maka resiko CTS pun ikut meningkat. Bedasarkan hasil penelitian Jagga dkk (2011), didapatkan bahwa pekerjaan yang beresiko tinggi mengalami Carpal Tunnel Syndrome adalah sebagai berikut:
a. Pekerja yang terpapar getaran
b. Pekerja perakitan
c. Pengolahan makanan & buruh pabrik makanan beku
d. Pekerja toko
e. Pekerja industri
f. Pekerja tekstil
g. Pengguna komputer

Diagnosis terhadap CTS dapat dilakukan oleh dokter secara langsung dengan pemeriksaan fisik pada tangan dan pergelangan. Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan dengan mengangkat pergelangan tangan sampai di atas kepala dengan posisi pergelangan tangan tertekuk ke dalam (fleksi). Selain itu, untuk mendukung hasil diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan tes darah, elektromiografi atau studi konduksi saraf dan pencitraan dengan ultrasonografi.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko berkembangnya CTS. Latihan sederhana pada tangan dan pergelangan tangan selama 4-5 menit setiap jam sangat dianjurkan bagi pekerja yang bekerja dengan gerak berulang. Peregangan dan latihan isometrik dapat memperkuat otot pergelangan tangan, leher dan bahu sehingga dapat memperbaiki aliran darah pada daerah tersebut. Selain itu, memberlakukan periode istirahat saat bekerja dan memodifikasi pekerjaan dapat membantu memecahkan permasalahan CTS.
Pengobatan CTS tidak membutuhkan cara khusus karena kondisinya akan pulih dengan sendirinya. Gejala CTS yang ringan dan sedang dapat ditangani dengan membalut pergelangan menggunakan papan kecil untuk meminimalisasi gerakan yang dapat memicu penekanan saraf medianus. Suntikan kortikosteroid untuk mengurangi rasa sakit juga dapat dilakukan apabila metode pembalutan tangan kurang efektif untuk dilakukan. Jika ditemukan kemungkinan adanya tanda-tanda kerusakan saraf permanen, tindakan operasi akan menjadi pilihan pertama dan pemulihan pasca operasi CTS membutuhkan waktu lama.

Semoga bermanfaat, Sobat!

Sumber:
https://www.alodokter.com/cts-carpal-tunnel-syndrome diakses pada 15 April 2018.
Bachrodin M. 2011. Carpal Tunnel Syndrome. Vol. 7 No. 14. Malang: FK UMM.
Huldani. 2013. Carpal Tunnel Syndrome. Banjarmasin: FK Universitas Lambung Mangkurat.
Jagga V, Lehri A, et al. 2011. Occupation and its association with Carpal Tunnel syndrome – A Review. Journal of Exercise Science and Physiotherapy. Vol. 7, No. 2: 68-78.
Salawati L, Syahrul. 2014. Carpal Tunnel Syndrome. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol. 14, No. 1, April 2014.

SAFETY IS MY LIFE. (CLS/YMS)

Ingin berbagi semua tentang keselamatan sobat? Yuk kirim ke allaboutsafetyid@gmail.com, kami tunggu ya 😊

Line: @allaboutsafety
Instagram: @allabout_safety
Twitter: @allabout_safety
Facebook Page: All About Safety Indonesia
Web: https://allaboutsafety.id
Email: allaboutsafetyid@gmail.com

#safetyismylife
#allaboutsafety
#kesehatan
#CTS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *