Mengenal Limbah Non B3 Serta Pengelolaannya di Bidang Konstruksi

Halo sobat safety!
Indonesia saat ini sedang berbenah dengan mengejar ketertinggalan pembangunan. Perkembangan dan kemajuan pembangunan di Indonesia didukung sektor konstruksi. Tetapi dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa aktivitas konstruksi menjadi penyumbang kerusakan lingkungan disekitar proyek pada saat aktivitas pembangunan dilakukan. Kerusakan yang ditimbulkan antara lain berasal dari pengambilan material, proses pengolahan material, distribusi material, proses konstruksi, pengambilan lahan untuk bangunan, serta konsumsi energi pada operasional bangunan.
Sobat safety, perlu diketahui bahwa dalam meminimalisir kerusakan lingkungan dibidang konstruksi dapat menerapkan sustainable construction atau sering disebut sebagai konstruksi berkelanjutan. Langkah yang dapat dilakukan untuk mewujudkan sustainable construction proses konstruksi yang dilakukan haruslah ramah lingkungan (green). Konsep green construction ini merupakan sebuah ide yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi pemborosan bahan dan penumpukan limbah konstruksi. Pengelolaan limbah atau waste management menjadi fokus utama dalam penerapan green construction. Kontraktor mengambil peran sentral dalam penggunaan material secara efisien. Tetapi menurut beberapa penelitian, tingkat kepedulian dan kesadaran kontraktor terhadap dampak dan penanganan limbah konstruksi masih tergolong rendah. (Hastuti, 2015)
Berdasarkan tingkat toksisitanya (kadar racun), limbah dibedakan menjadi 2 macam, yakni:
Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), limbah B3 diantaranya adalah benzena, asam sulfat, sulfur dioksida, karbon monoksida. Limbah B3 diantaranya mempunyai sifat eksplosid (mudah meledak), beracun, berbahaya, mutagenik (menyebabkan perubahan pada gen), dan teratogenik (menyebabkan gangguan pada gen).
Limbah Non B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), limbah non B3 merupakan limbah yang tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun.
Sementara itu limbah konstruksi dalam proyek pembangunan meliputi:
Limbah padat meliputi limbah kayu bekisting, papan bekas, perancah bambu, potongan besi tulangan, potongan kaca, potongan keramik, gypsum board, kalsiboard, pecahan genteng, sisa mortar, bungkus semen, kaleng cat, plastik, kertas, paku.
Limbah cair meliputi genangan air semen, sisa oli, minyak bekisting, sisa cat
Limbah gas meliputi debu semen dan polusi suara
Sobat safety, ternyata limbah yang dihasilkan dari proyek pembangunan termasuk dalam limbah non B3. Sehingga limbah konstruksi ini dapat dikelola secara baik untuk mewujudkan green management. Bentuk pengelolaan tersebut diantaranya:
Menggunakan kembali (reuse) : limbah bekisting kayu, paku
Menjual limbah konstruksi: papan bekas bowplank, potongan besi tulangan, potongan kaca, paku
Mengunakan sebagai urungan: pecahan bata, pecahan beton, pecahan genteng, sisa mortar
Memberikan pada warga sekitar atau tukang: bungkus semen, kaleng cat, plastik, kertas
Dialirkan ke drainase: genangan air semen

(sar)

SAFETY IS MY LIFE.

Daftar Pustaka:
Definisi Limbah artikel-limbah.blogspot.com/2007/04/definisi-limbah-b3.html (diakses 8 Januari 2018)
Hastuti, Sri Puji. 2015. “Waste Management Pada Proyek Pembangunan Gedung Sebagai Bagian Dari Upaya Perwujudan Green Construction (Studi Kasus : Pembangunan Gedung-Gedung di Universitas Sebelas Maret Surakarta)”.


Ingin berbagi semua tentang keselamatan sobat? Yuk kirim ke allaboutsafetyid@gmail.com, kami tunggu ya

Line: @allaboutsafety
Instagram: @allabout_safety
Twitter: @allabout_safety
Facebook Page: All About Safety Indonesia
Web: https://allaboutsafety.id
Email: allaboutsafetyid@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *